Bisnis Food Truck Di Jogja, Kenapa Tidak!
Bisnis food truck belakangan ini sedang happening. Kiblat bersantap dengan gaya restoran berjalan ini dinilai seru, praktis, dan fleksibel. Di Amerika, food truck menjual beragam makanan, mulai eskrim dan makanan beku, hingga yang harus dimasak dan disiapkan langsung di atas truk.
Makin ke sini, tren food truck
berkembang pada masakan dan menumenu yang lebih unik dan lebih rumit
untuk disiapkan. Food Stop Indo, misalnya, didirikan Derryl Ratulangi,
25, pada Mei 2015 karena terinspirasi tren food truck di Amerika. ”Waktu
awal saya buka sudah ada empat food truck di Indonesia, saya jadi
orang kelima,” kenangnya. Derryl menggunakan truknya bila ada event.
Selain itu melakukan pemasaran melalui sosial media (sosmed), seperti Twitter (@foodstopindo), Facebook (Foodstop Indo), dan Instagram (@foodstopindo). Dari beberapa food truckyang sudah berkembang di Jakarta, menurut Derryl, hanya food truck miliknya yang menyajikan makanan Jepang. “Biasanya kan kalau food truckidentik dengan makanan Westernatau Meksiko, jadi saya mau bikin yang beda,” katanya.
Selain Food Stop Indo, The Roffie Food Truck juga berupaya
meramaikan kancah kuliner di Jakarta dengan menggunakan konsep restoran
berjalan. Usaha ini didirikan oleh Lala Tjandar, 25, pada akhir 2014
lalu. The Roffie memasarkan food trucknya melalui kerja sama dengan
beberapa pihak mal dan event organizer.
“Kami juga gencar melakukan pemasaran via sosmed,” sebutnya. The Roffie memiliki konsep mengubah mindsetpara konsumen yang hanya mengetahui bahwa food truckkebanyakan menyajikan makan-makanan luar, dengan menghadirkan makanan khas Indonesia, Jakarta Food Truck atau JFT sudah memulai bisnisnya sejak dua tahun silam.
”Kami terbilang cukup lama, terinspirasi dari food truckyang ada di
Amerika. Menjajakan makanan di truk itu mungkin sudah biasa ya di
Amerika, kalau di Indonesia masih sangat jarang,” kata Andi, chef JFT.
Dua tahun lalu, Andi berjuang sendirian untuk mempromosikan food truck
di Jakarta. Ia mengaku banyak terbantu lewat sosial media, selain
promosi dari mulut ke mulut.
Akun Twitter mereka adalah @jktfoodtruck. Black Jack Food Truck
mengambil konsep unik. Semua makanan mereka berwarna hitam, yakni
menggunakan pewarna arang bambu hitam dari Jepang untuk roti, merang
untuk mi, dan tinta cumi untuk nochos. Makanan diolah oleh Black Jack
Food Truck ini baik untuk kesehatan karena di dalamnya tidak mengandung
bahan pengawet.
Selain dari mulut ke mulut, makanan ini dikenalkan kepada masyarakat
luas melalui media sosial. Black Jack Food Truck baru mulai berjualan
pada Januari 2015. “Kami besar dari mulut ke mulut,” kata Maya
Rusdianto, owner Black Jack Food Truck. Berbeda dengan Britatoes Food
Truck yang menyediakan makanan dengan olahan dasar kentang sebagaimana
namanya British potatoes (singkatan britatoes) dan tentu terinspirasi
dari Inggris.
“Britatoesini kami kenalkan kepada masyarakat dengan menggunakan media sosial, yaitu Instagram dengan alamat @britatoes. Media ini sangat efisien untuk mengenalkan kepada masyarakat luas mengenai produk kami,” tutur Tomo, chef Britatoes. Yellow Joe Food Truck baru dua bulan ikut meramaikan bisnis food truck.
Booming-nya bisnis food truck
dengan mencari market dan membawa produk langsung ke target akhirnya
memaksa Joe Rizal Prakarsa, 34, ikut nyemplung di bisnis yang sedang
marak ini. Joe melakukan pemasaran melalui Facebook (yellow joe) dan
Instagram (@chefyellowjoe). Tidak hanya itu, ia juga mendatangi dan
membagi-bagikan flyerataupun sms blast.
Menurutnya, pengaruh sosmed sangat besar dalam menjalankan bisnis ini.
Karena setiap banyaknya orang yang mencari informasi juga lewat sosmed.
“Biasanya apabila food truckkami berpindahpindah tempat, kami bisa
meng-update lokasi ke follower kami,” ujar Joe. Ia berharap agar binis
food truckini bisa lebih berkembang dan lebih berinovasi dari setiap
penyajiannya agar tidak menjiplak yang sudah ada.
